Pekanbaru, 8 Juni 2026 —Jikalahari bersama Mapala Phylomina, Mapala Humendala, Brimapala Sungkai dan Blacan Art Community menggelar Aksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di kawasan Car Free Day, Tugu Zapin, Pekanbaru, Minggu (7/6/2026). Mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim: Hentikan Karhutla di Riau”, aksi ini menjadi seruan bersama untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah ancaman fenomena Godzilla El Nino.
Aksi dilakukan melalui berbagai kegiatan kreatif dan edukatif, mulai dari teatrikal dengan tema Godzilla El Nino, body painting, orasi publik, photo up, hingga ruang ekspresi masyarakat melalui bingkai keresahan. Melalui kegiatan ini, peserta aksi mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ancaman karhutla yang berpotensi kembali terjadi di Riau.
Situasi aksi berlangsung dengan baik dan mendapat respon positif dari pengunjung Car Free Day. Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi mereka dalam berfoto bersama properti aksi, menyaksikan teatrikal Godzilla El Nino, serta aksi body painting. Setelah itu, peserta aksi melakukan pawai di area Car Free Day sambil membawa spanduk bertuliskan “Saatnya Bekerja untuk Iklim: Hentikan Karhutla di Riau” sebagai ajakan untuk mendorong upaya pencegahan karhutla di Riau.
Pengunjung Car Free Day juga turut menyampaikan aspirasi dan keresahan mereka terkait kondisi lingkungan hidup di Riau melalui “Bingkai Keresahan Masyarakat” yang disediakan oleh peserta aksi. Berbagai pesan yang dituliskan menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap isu kerusakan hutan, kabut asap, dan perlindungan lingkungan. Sejumlah pengunjung menyerukan pentingnya menjaga alam untuk masa depan, menghentikan alih fungsi hutan alam menjadi perkebunan sawit dan eukaliptus, serta memastikan masyarakat memperoleh hak atas udara bersih yang bebas dari kabut asap. Selain itu, terdapat pula tuntutan agar korporasi yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan ditindak tegas, disertai ajakan untuk melawan karhutla, memulihkan hutan lindung, dan menghentikan praktik-praktik yang menyebabkan kerusakan hutan. Aspirasi tersebut mencerminkan besarnya harapan masyarakat terhadap upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla yang lebih serius di Riau.
Koordinator Jikalahari, Okto Yugo Setyo, mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk pengingat kepada pemerintah dan seluruh masyarakat agar tidak mengabaikan peringatan dini yang telah disampaikan oleh BMKG.
“Apa yang dikerjakan oleh teman-teman hari ini adalah pengingat, khususnya bagi para penguasa dan juga bagi kita semua yang hadir di sini. Dari tema yang kita angkat, Godzilla El Nino, saya ingin menyampaikan satu ungkapan bahwa Keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Godzilla El Nino ini tidak berbeda dengan peringatan badai siklon yang sebelumnya disampaikan BMKG untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Semuanya adalah peringatan dini atas potensi bencana. Jika peringatan Godzilla El Nino tidak ditanggapi serius seperti peringatan badai siklon sebelumnya, maka bersiaplah, kita akan jatuh ke lubang yang sama,” ujar Okto.
Menurutnya, ancaman El Nino harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla, terutama di kawasan gambut yang selama ini menjadi wilayah paling rentan terhadap kebakaran.
“Saya melihat arah kebijakan penanganan karhutla justru mundur. Contohnya, gambut masih diperlakukan sebagai kawasan budidaya dan terus dieksploitasi, padahal amanat regulasi mengharuskan kawasan gambut tertentu dijadikan kawasan lindung. Karena itu kita tidak boleh lengah untuk mengingatkan pemerintah, penegak hukum, petugas, untuk melawan korporasi jahat dan pemerintah yang dzolim” tegas Okto.
Sejalan dengan itu, Fitrah Ramadhan dari Brimapala Sungkai menyampaikan bahwa Godzilla El Nino merupakan simbol ancaman nyata yang akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Godzilla El Nino bukan sekadar simbol dalam aksi hari ini. Ini adalah peringatan mengenai fenomena El Nino ekstrem yang telah disampaikan BMKG. Dampaknya akan kita rasakan melalui musim kemarau yang lebih panjang, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai kerugian sosial dan ekonomi yang ditanggung masyarakat,” ujar Fitrah.
Sementara itu, Juprizal dari Mapala Phylomina mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang semakin rentan terhadap kebakaran.
Hari ini kami mengajak masyarakat untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan yang semakin rusak. Kalau bukan dari kita, siapa lagi yang akan peduli terhadap lingkungan kita? Cuaca hari ini terasa sangat kering dan harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan mencintai alam,” kata Juprizal.
Hal serupa disampaikan Ismail dari Mapala Humendala, yang menyoroti berulangnya bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau.
“Setiap tahun kita terus menghadapi kebakaran hutan dan lahan, tetapi masyarakat masih harus menghirup udara yang tercemar asap ketika karhutla terjadi. Persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Kita membutuhkan langkah yang lebih serius untuk melindungi lingkungan dan mencegah bencana yang terus berulang,” ujar Ismail.
Aksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini menjadi bentuk kolaborasi organisasi lingkungan, kelompok mahasiswa pecinta alam, komunitas seni, dan masyarakat sipil untuk mendorong kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla serta memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan hutan dan gambut di Riau.
Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, peserta aksi mendesak pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla, melindungi ekosistem gambut, mengevaluasi aktivitas di kawasan rawan kebakaran, serta menjamin hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat dan udara bersih.
Narahubung:
Staff Advokasi dan Kampanye Jikalahari, 0822 8833 9773 (Habibah)





