Dari Masyarakat Inhil untuk Mangrove Lestari

Kajian kondisi mangrove di Indragiri Hilir dan pelibatan masyarakat dalam penyusun proses perencanaan dan pengelolaan ekosistem ini secara lestari

Hutan mangrove tergolong kedalam komunitas vegetasi pantai tropis yang terdiri dari berbagai jenis pohon yang tumbuh di wilayah pasang surut pantai berlumpur. Terdapat flora dan fauna yang spesifik yang hidup dan berkembang di hutan mangrove dengan keanekaragaman hayati yang tinggi (Ritohardoyo & Ardi, 2014). Keberadaan mangrove yang sehat dan terjaga di kawasan pesisir, dapat meningkatkan ketahanan masyarakat di sekitaran pesisir tersebut, baik terhadap perubahan iklim dan bencana alam, seperti gelombang dan badai.

Secara ekologis, fungsi hutan mangrove adalah 1) sebagai pelindung kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, 2) meminimalisir abrasi pantai dan intrusi air laut, 3) mempertahankan eksistensi spesies hewan laut dan vegetasi, 4) penyangga sedimentasi. Sementara secara ekonomis, fungsi hutan mangrove adalah sebagai penyedia bahan baku yang digunakan manusia untuk proses produksi dan pakan ternak (Yuliarsana & Danisworo, 2000).


Potensi dari hutan mangrove di Indonesia dapat menjadi aset penting dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Hal tersebut dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia dengan perkiraan karbon biru yang tersimpan didalam hutan mangrove sebesar 3,14 milyar ton (Murdiyarso et al., 2015). Meskipun demikian, hutan mangrove cenderung rentan terhadap kerusakan apabila tidak adanya keseimbangan lingkungan.

Kerusakan pada hutan mangrove tidak hanya disebabkan oleh proses alamiah, tetapi juga dapat disebabkan oleh aktivitas manusia yang berlebihan (Pramudji, 2000). Aktivitas manusia yang berlebihan dalam mengeksploitasi keberadaan hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang melanggar aturan-aturan konservasi. Hal tersebut menyebabkan ekosistem hutan mangrove mengalami degradasi. Degradasi hutan mangrove yang terus-menerus terjadi menandakan bahwa pengelolaan mangrove harus dilaksanakan melalui upaya konservasi dan restorasi yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat pesisir.


Hutan mangrove yang sehat dan terjaga tidak hanya memberikan jasa perlindungan pesisir, tetapi juga berperan dalam sustainable ketersediaan sumber makanan di wilayah pesisir. Konsumsi protein dari perikanan (seafood) sangat terkait dengan keberadaan hutan mangrove. Menurut (Macintosh et al., 2002), diperkirakan siklus hidup dari 50%-80% jenis ikan komersial bergantung pada mangrove. Secara alami, ekosistem mangrove memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan (self recovery). Namun kemampuan beradaptasi tersebut bermacam- macam tergantung dari kondisi lingkungan dan kondisi mangrove itu sendiri.

Menurut (Lovelock et al., 2015), hutan mangrove di Indonesia pada Tahun 2100 akan mengalami penurunan. Selain terjadi peningkatan air laut yang terjadi terus-menerus dan tergenang, kerusakan mangrovedisebabkan karena ruang gerak mangrove yang terbatas dalam penyesuaian dan perpindahan kearah darat akibat dari alih fungsi hutan menjadi kawasan permukiman.


Dengan demikian, mangrove yang berada di kawasan konservasi, memiliki kesempatan beradaptasi dengan lingkungan dibandingkan hutan mangrove yang berada di kawasan permukiman penduduk. Untuk itu, selain jenis dan kondisi mangrove, resiliensi mangrove juga dipengaruhi oleh ekologi dan sosial (Brown, 2007).

Untuk membaca kajian ini selengkapnya, dapat didownload di sini:

About Nurul Fitria

Staf Advokasi dan Kampanye Jikalahari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *