Jikalahari mencatat sebanyak 425 titik panas (hotspot) terdeteksi di Riau pada 7–13 September 2026. Hotspot tersebar di 11 kabupaten/kota, dengan jumlah tertinggi berada di Indragiri Hulu sebanyak 229 titik, disusul Bengkalis 49 titik dan Indragiri Hilir 42 titik.
Dari total tersebut, 264 titik atau 62% berada di kawasan gambut, dengan kedalaman gambut mulai dari kurang dari 50 cm hingga lebih dari 4 meter. Sebanyak 161 titik berada di kawasan mineral.
Yang perlu menjadi perhatian, 117 titik hotspot atau sekitar 28% dari total hotspot berada di dalam kawasan perusahaan. Rinciannya, 8 titik berada di kawasan konsesi Hutan Tanaman (HTI) dan 109 titik berada di kawasan perkebunan sawit.
Pada kawasan HTI, hotspot terdeteksi di PT Arara Abadi, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Sekato Pratama Makmur, dan PT Sumatera Riang Lestari, masing-masing sebanyak 2 titik.
Sementara di kawasan perkebunan sawit, hotspot terdeteksi di sejumlah perusahaan, antara lain PT Perkebunan II (S. Air Bayas) sebanyak 40 titik, PT Banyu Bening Utama 20 titik, PT Surya Dumai Agrindo 10 titik, PT Palma Satu 6 titik, PT Perkebunan V 6 titik, dan PT Tani Subur Makmur 5 titik.
Hotspot juga terdeteksi di PT Kokonako Indonesia, PT Meganusa Intisawit, PT Sakti Sawit Jaya, PT Trisetya Usaha Mandiri, PT Blangkolam, PT Bumi Reksa Nusasejati, PT Wanasari Nusantara, PT Agro Citra Mulia, PT Rokan Era Subur, PT Surya Inti Sari Raya, dan PT Tribakti Sari Mas.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan di Riau tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan masyarakat atau kejadian alam. Keberadaan hotspot di dalam kawasan konsesi perusahaan harus menjadi perhatian serius pemerintah dan perusahaan pemegang izin, terutama dalam memastikan pencegahan dan pengendalian karhutla berjalan efektif.
Jikalahari mendorong pemerintah untuk menelusuri penyebab setiap hotspot di kawasan perusahaan, memperkuat pengawasan, serta memastikan korporasi bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan konsesinya, terlebih hotspot juga ditemukan di kawasan gambut yang memiliki risiko ekologis dan kebakaran yang tinggi.









