DIBALIK RUSAKNYA HUTAN INDONESIA

Catatan Hasil Pemantauan Kepatuhan Korporasi Mewujudkan Nol Deforestasi, Restorasi Gambut serta Perlindungan Keanekaragaman Hayati

SEPANJANG LIMA TAHUN TERAKHIR, masyarakat Indonesia dihadapkan pada berbagai bencana besar, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, longsor dan tentunya pandemi COVID-19. Bencana ini terjadi, tak lepas dari menurunnya kualitas lingkungan hidup dan kehutanan, tak hanya Indonesia, bahkan dunia. Rusaknya kondisi lingkungan dan hutan akibatkan krisis iklim yang membuat bumi tak lagi dalam keadaan baik-baik saja.

Pandemi COVID-19 yang menyerang sejak 1 tahun terakhir sayangnya juga banyak menelan korban jiwa. Data dari www.covid19.go.id hingga 26 Mei 2021 tecatat ada 1.786.187 kasus terkonfirmasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut 1.642.074 diantaranya dinyatakan sembuh dan 49.627 orang dinyatakan meninggal dunia. Dari 34 provinsi di Indonesia, 10 daerah dengan jumlah kasus terbanyak diantaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Riau, Banten, Bali dan DI Yogyakarta.

Beberapa riset membuktikan, munculnya wabah penyakit yang disebabkan virus ini erat kaitannya dengan kondisi lingkungan. Sebuah riset yang dipublikasi di jurnal Proceedings of Royal Society menyebut aktivitas manusia berupa perburuan ilegal (eksploitasi) satwa liar dan perusakan habitat alami (keanekaragaman hayati) adalah faktor yang mendasari berlimpahnya penyakit menular atau zoonosis. Zoonosis merupakan wabah yang disebabkan oleh penularan virus hewan liar ke manusia.

Studi ini menemukan: 70 persen penyakit manusia adalah zoonosis seperti wabah virus korona alias Covid-19, 140 virus telah ditularkan dari hewan ke manusia dan hewan tersebut masuk dalam daftar Merah Spesies terancam punah IUCN. “Para pembuat kebijakan harus fokus dan siap siaga mencegah risiko penyakit zoonosis, terutama mengembangkan kebijakan terkait lingkungan, pengelolaan lahan dan sumber daya hutan,” kata Christine Johnson, peneliti utama dalam studi ini.

Sedangkan menurut Farida Camallia, penasihat teknis dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) ada tiga faktor yang memengaruhi persebaran zoonosis dari satwa liar. Pertama, keanekaragaman mikroba satwa liar dalam suatu wilayah tertentu; kedua, perubahan lingkungan; dan ketiga, frekuensi interaksi antara hewan dan manusia. Jika salah satu faktor ini terganggu, dipastikan zoonosis pun menyebar

Pada fase awal COVID-19 melanda Indonesia, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan lajunya penyebaran wabah ini. Salah satunya dengan menerapkan pembatasan aktifitas di luar ruangan sehingga bagi para pekerja dapat bekerja dari rumah—work from home— dan hanya keluar untuk hal yang sangat penting saja. Jika keluar, penerapan protokol kesehatanpun dilakukan.

Minimnya aktifitas manusia di luar ruangan untuk mengindari terpapar COVID-19 ini ternyata cukup membawa dampak baik terhadap pemulihan bumi dari eksploitasi sumberdaya alam oleh manusia.

Temuan para ilmuwan menunjukkan, “Planet bumi memulihkan diri ketika semua manusia dipaksa diam di rumah saat pandemi virus corona. kebaikan yang terjadi ini harus bisa dijaga, meskipun wabah berakhir,” kata Wade McGilis, professor Bidang Tekhnik Lingkungan di Columbia University.

Munculnya Covid-19 menunjukkan tiga perubahan positif bumi yang mesti dijaga:

Pertama polusi udara berkurang. Di seluruh dunia terjadi penurunan polusi udara. Foto-foto satelit menunjukkan polusi jauh berkurang di Eropa dan China. Bahkan di Indonesia, langit biru yang sebelumnya tertutup oleh asap polusi, kini terlihat cerah.

Kedua, emisi karbon turun. Emisi karbon dioksida juga turun di berbagai tempat di dunia. Di China turun 25 persen pada Februari 2020. Di prediksi, emisi gas rumah kaca di Eropa akan turun 24,4 persen tahun ini karena lockdown.

Ketiga, bumi jadi lebih indah dengan flora fauna. Kanal di Venesia jadi bersih karena lockdown dan tidak ada manusia. Lumba-lumba muncul di Sardinia, Italia. Musang langka muncul di tengah kota Meppayur, India. Rusa di kota Nara, Jepang turun sampai ke perkotaan.

McGilis khawatir, “Manusia akan lupa begitu saja dengan keajaiban alam memulihkan diri. Begitu wabah Covid-19 berakhir, mereka akan kembali membabi buta mengeksploitasi dan merusak alam.”

Dan kenyataannya, kekhawatiran McGilis itu terbukti terjadi di tengah Covid-19.

Seperti yang dipaparkan dalam berbagai penelitian, penyebab munculnya zoonosis jelas karena rusaknya hutan dan lingkungan. Tidak menutup kemungkinan bahwa setelah COVID-19, akan banyak lagi virus-virus yang bermunculan menyerang manusia karena kondisi lingkungan hidup dan hutan terus-terusan dirusak oleh manusia. Eksploitasi sumber daya alam yang habis-habisan tanpa peduli upaya pelestariannya hingga upaya perbaikan lingkungan yang abai dilaksanakan. Maka zoonosis tak akan pernah berhenti.

Dorongan untuk melakukan perbaikan dan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan kehutanan terus dilakukan, baik dari pemerintah hingga ke masyarakat. Bahkan tak sedikit perusahaan-perusahaan industri bermunculan dengan komitmen ‘hijau’ mereka yang mengedepankan mekanisme pengelolaan yang berkelanjutan. Namun pertanyaannya, sudahkah mereka merealisasikan komitmen tersebut.

Hal ini menggerakkan beberapa organisasi masyarakat sipil yang fokus pada kegiatan penyelamatan lingkungan untuk ‘melihat’ realisasi dari komitmen perusahaan-perusahaan kehutanan yang menyebut bahwa mereka berkomitmen untuk melakukan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Riau, WALHI Jambi, WALHI Sumatera Selatan dan Pontianak Institut (POINT) Kalimantan Barat melakukan pemantauan langsung di lapangan sepanjang 2020, melihat langsung upaya perbaikan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang mengelola konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) .

Hasil temuan menunjukkan, komitmen tersebut sampai saat ini masih sebagai ‘pemanis’ saja karena minim realisasi. Masih ditemukan adanya penebangan hutan alam, kebakaran hutan dan lahan serta minimnya upaya untuk merestorasi gambut yang telah rusak di areal tersebut. Apakah pandemi COVID-19 masih belum cukup untuk menyadarkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan disekitar kita?

Untuk membaca laporan selengkapnya, dapat didownload di sini:

About Nurul Fitria

Staf Advokasi dan Kampanye Jikalahari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *